Pola Perkembangan Islam di Nusantara

Waktu senggang yang saya dapati membuahkan beberapa pemikiran tentang kepercayaan yang saya yakini. Kebanyakan informasi yang saya dapat berasal dari dialog Emha Ainun Najib (Cak Nun) dan Habib Anis Sholeh Ba’asyin. Penyebaran Islam di Indonesia, yang biasanya diagung-agungkan karena menyebar dengan perdamaian dan akulturasi budaya, dapat secara kasar dikelompokkan dalam beberapa pola. Berikut hasil korek-korek informasi yang saya dapatkan.

Pra Wali Songo

Islam di Nusantara masih dipandang sebelah mata. Memang ada eksistensinya di Jawa pesisir utara. Didominasi oleh para saudagar dari Asia Selatan dan Timur Tengah.

Namun komunitas ini masih kalah pamongnya dari peradaban Hindu-Buddha di Jawa. Ini yang digembar gemborkan di buku-buku sejarah bahwa Islam menyebar melalui pernikahan antar budaya, antar saudagar dengan penduduk lokal. Perlu diingat, bahwa saudagar pada peradaban zaman tersebut termasuk kasta terendah. Oleh karena itulah Islam masih kurang berkembang karena disebarkan oleh pedagang, bukan para pendakwah. Padahal era ini berlangsung selama ratusan tahun.

Sisa-sisa era ini bisa diliat sekarang, dengan adanya warga keturunan Arab di pesisir Jawa Utara.

Era Wali Songo

Masa di kala Islam sangat berdaulat, percaya diri, dan progresif terus berkembang dan menyebar. Dengan mantap mengolah tradisi, dan tidak khawatir akan kehilangan identitas keislamannya. Islam disebarluaskan oleh para pendakwah sejati. Di era ini mulai lahir akulturasi budaya antara syariat Islam dengan budaya lokal. Kitab-kitab ditulis dengan aksara jawa.

Kerajaan atau Kraton bernafaskan Islam yang dibackup oleh Wali songo lahir, diawali dengan runtuhnya Majapahit dan berdirinya Kerajaan Demak. Kraton adalah pusat agama dan Raja adalah Khalifahnya.

Keberhasilan Islamisasi pada zaman ini bisa dilihat pada keagungan budaya Jawa klasik, seperti wayang, gamelan, dan macapat. Wayang yang kisahnya berasal dari India diolah dan dirombak oleh Sunan Kalijaga agar menjadi Islami. Pandawa Lima yang menganut poliandri (Drupadi yang bersuamikan lima orang) berubah menjadi Pandawa yang berpoligami (Drupadi di sini hanya menjadi istri Puntodewo).

Pasca Pangeran Diponegoro dan Kolonialisme Belanda

Era ini ditandai dengan waktu di kala Pesantren berpisah dengan Kraton. Wayang mulai ditolak, aksara jawa tidak lagi digunakan. Sayangya, banyak syariat yang menyimpang di era ini.

Pada akhir era ini, lahirlah Muhammadiyah dan NU yang bertujuan mengembalikan syariat Islam ke jalurnya yang benar.

Pada zaman ini, kitab-kitab untuk mulai menghancurkan syariah islam ditulis. Kitab yang fenomenal adalah Gatoloco dan Darmogandul.

Pasca 80an

Bisa dibilang zaman di mana Islam mulai kehilangan identitas. Di era ini pula terjadi Arabisasi. Segala yang berbau Arab dianggap sebagai identitas Islam, segala yang berbau Jawa dianggap klenik dan tidak ada unsur syariat di dalamnya.

Sebagai contoh, peristiwa mengaji langgam jawa di acara kenegaraan dengan tajwid yang tidak ada salah, dianggap adalah amalan yang salah. Padahal dari dulu zaman Wali songo, adzan dikumandangkan dengan lagu jawa.

Sebuah Penutup

Mari berandai-andai. Akankah dirimu tetap sholat jika tiada surga dan neraka? Apalah artinya surga tanpa ridho tuhanmu. Jika ridho Tuhanmu kau raih, insya Allah surga juga kau gapai.

One thought on “Pola Perkembangan Islam di Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *